Jumat, 11 Mei 2012

Tips Cara Membangun Generasi Emas Melalui Belajar Mengajar Bahasa Indonesia


TIPS CARA MEMBANGUN GENERASI EMAS MELALUI BELAJAR MENGAJAR BAHASA INDONESIA
Dalam situasi tertentu, siswa pada usia belia kadang lebih tertarik untuk mengembangkan beradu fisik (otot) daripada kecakapan berkreativitas nalar (otak). Bagi mereka, dengan beradu fisiklah yang akan menentukan bagai mana status mereka di mata teman-temannya. Padahal, pada masa usia belialah yang merupakan masa-masa emas pemerolehan bahasa bagi setiap anak normal yang dapat dikembangkan untuk mendukung perkembangan diri. Sungguhpun begitu, sebagian pendidik di sekolah-sekolah masih mengabaikan proses membaca dan menulis karena mereka enggan melibatkan kompleksitas aspek kebahasaan. Untuk itu, seharusnya kesiapan siswa dalam pembelajaran proses membaca dan menulis Bahasa Indonesia perlu diberdayakan, baik dari perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Jika pada tahap itu keterlibatan siswa diintensifkan secara langsung, peluang terkembangnya multi karakter siswa sangat terbuka.
Ketika ruang untuk mengekspresikan diri tidak disediakan dengan tepat, mereka mudah menerobos, bahkan kerapkali meluapkan sikap emosional ditempat dan waktu yang tidak pada umumnya, meskipun itu akibat persoalan yang sederhana. Padahal, olah kata dengan ujung pena dapat menjadikan kecerdasannya sebagai modal intelektual dalam membangun prestasi keberaksaraan di masa depan. Perkembangan multikarakter siswa pada usia belia perlu dimanajemen secara cermat dengan mengalirkan pikiran dan perasaan positif kepada siswa dalam pengambilan suatu keputusan, serta pengungkapan opini terhadap persoalan kontroversial yang bermunculan ditengah masyarakat secara bijak.
Untuk membangkitkan generasi emas, perlu ada keteladanan dari para orang tua. Apa yang terjadi di masyarakat saat ini seperti kasus kriminalitas, dan penyalahgunaan Narkotika, merupakan cambuk bagi para orang tua dan guru untuk mendidik putra-putrinya lebih baik lagi. Sudah saatnya kita memulainya dari pendidikan dalam keluarga. Tak bisa begitu saja orang tua menyerahkannya kepada sekolah. Pendidikan yang utama tetap dikendalikan orang tuanya, dan anak harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang layak dari pemerintah untuk meningkatkan pengetahuan, budi pekerti yang luhur, dan keterampilannya. Semua itu telah tertuliskan pada tujuan pendidikan nasional yang sering dituliskan
Mahalnya biaya pendidikan membuat pemerintah harus memikirkan agar si miskin bisa sekolah. Selama ini si kaya masih mendapatkan pelayanan prima, sedangkan si miskin harus dengan sabar menerima pelayanan pendidikan apa adanya. Pada akhirnya anak-anak yang kurang mampu berpikir, buat apa sekolah kalau sekolah mahal. Lebih baik cari duit buat makan.
Ada lagi yang sangat memprihatinkan dalam dunia pendidikan kita. Pendidikan kewirausahaan kurang tertanamkan dengan baik di sekolah-sekolah kita. Pada akhirnya, sekolah hanya melahirkan pengangguran terdidik karena lulusan hanya mampu menjawab soal-soal ujian nasional (UN) sampai “muntah”. Pendalaman materi dilakukan, Tryout UN dilakukan berkali-kali, sampai pemerintah daerah pun ikut-ikutan membuat soal Tes Uji Kemampuan Peserta Didik (TUKPD) yang membikin siswa jadi gak pede. Seolah-olah mereka yang lulus UN dengan nilai terbaik akan jauh lebih unggul nasibnya dengan mereka yang nilai UN-nya pas-pas-an. Seolah-olah nasib peserta didik hanya dilihat dan dilirik dari nilai UN-nya saja.
Sistem pendidikan kita masih harus disempurnakan. UN sebaiknya hanya pemetaan saja selama pemerintah belum memiliki sarana dan prasarana yang memadai. SDM guru yang berkualitas masih belum merata, pada akhirnya lulusan di daerah tertentu untuk SD, SMP/MTs, dan SMA/SMA/MA kurang menggembirakan hasilnya. Ketika pemerintah tahu daerah  yang tertinggal itu seharusnya segera dilakukan pembinaan dan perbaikan. Namun nyatanya hanya sebatas pengumpulan data saja. Lagi-lagi UN tetap dilakukan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Gerah dan gemes hati ini bila melihat dana pendidikan yang begitu besar tak tersalurkan tepat sasaran. Ingin rasanya memberikan masukan atau data yang benar bahwa pendidikan gratis yang didengungkan selama ini belum berjalan dengan baik. Data yang dituliskan oleh Tracey Yaniharjatanaya di kolom opini kompas hari ini menunjukkan bahwa 13 % murid SD tidak menyelesaikan pendidikan. Bagaimana mungkin kita akan membangkitkan generasi emas bila generasi pembangkitnya memble dan terjangkit masalah korupsi, kolusi, dan nepotisme?
Generasi emas Indonesia harus dibangkitkan dalam bidang pendidikan. Pendidikan yang benar tidak mengenal status sosial atau kasta. Tidak boleh ada kastanisasi di sekolah-sekolah kita. Semua orang wajib sekolah dan mendapatkan pelayanan yang baik dari pemerintah. Semua rakyat Indonesia harus mendapatkan pendidikan yang layak  sesuai dengan ketentuan UUD 1945.
Beeby (1987) menyatakan bahwa pelajaran-pelajaran yang diberikan guru amat kurang sekali variasinya, dan dengan sedikit kekecualian, pola yang sama telah menjadi standar di ulang-ulang sepanjang jam pelajaran sekolah. Kadang-kadang guru mulai mengajar dengan hanya mendiktekan saja pelajarannya dan jika masih ada waktu baru memberikan penjelasan sekedarnya tidak mencerminkan pembelajaran CTL apa lagi tanpa variasi dengan penggunaan media yang sesuai maupun sumber-sumber belajar yang memadai. Apabila kebiasaan seperti itu tetap dipraktekan oleh para guru di kelas selama proses pembelajaran, maka dapat dipastikan bahwa peningkatan mutu pendidikan akan sulit dicapai.
Mengajar menurut pengertian modern berarti aktivitas guru dalam mengorganisasikan lingkunngan dan mendekatkannya pada anak didik sehingga terjadi proses belajar. (nasution 1935:5)
Whittaker menyatakan belajar merupakan proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau di ubah melalui latihan atau pengenalan.
Winkel menyatakan belajar merupakan aktivitas mental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengatahuan, pemahaman, ketarampilan, nilai dan sikap.
http://blog.elearning.unesa.ac.id/alim-sumarno/belajar-mengajar-dan-pembelajaran

Selasa, 08 Mei 2012

Tugas Individu PEMBELAJARAN MENULIS


Tugas individu PEMBELAJARAN MENULIS
1.      Identifikasikanlah:
a.       Ciri-ciri guru yang baik
Jawab:
·         Guru yang mempunyai anggapan bahwa orang lain itu mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah mereka sendiri dengan baik
·          Guru yang melihat bahwa orang lain mempunyai sifat ramah dan bersahabat dan bersifat ingin berkembang
·         Guru cenderung melihat orang lain sebagai orang yang sepatutnya diharga
·          Guru yang melihat orang-orang dan perilaku mereka pada dasarnya berkembang dari dalam; jadi bukan merupakan produk dari peristiwa-peristiwa eksternal yang dibentuk dan yang digerakkan. Dia melihat orang-orang itu mempunyai kreatifitas dan dinamika; jadi bukan orang yang pasif atau lamban
·          Guru yang melihat orang lain itu dapat memenuhi dan meningkatkan dirinya; bukan menghalangi, apalagi mengancam
b.      Ciri-ciri guru yang hebat
·         Ucapan dan intonasinya jelas dan mudah dipahami. Siswa langsung menyerap makna dari ucapan guru tanpa harus berpikir lama dan berputar-putar. Ucapan guru tersistem, mantap, dan berterima dengan kejiwaan siswa.
·         Bobot keilmuannya sangat dalam dan luas. Sehari-hari, guru hebat mengikuti perkembangan zaman untuk memupuk keluasan keilmuannya. Tren zaman dapat cepat dimaknai oleh guru lalu diolah dengan bahasa guru untuk disajikan ke siswanya.
·          Orangnya lugas dan sederhana. Karena yang dihadapi adalah siswa bukan orang dewasa, guru hebat selalu menyampaikan keilmuannya dengan lugas dan mudah diterima siswanya.
·          Bersahabat dan peduli. Guru biasa selalu mengambil jarak dengan siswa karena menurutnya wibawa guru akan terbangun. Namun, tidak untuk guru hebat. Guru hebat bersahabat dengan siswanya sehingga terbangun kedekatan yang akan mempermudah berkomunikasi. Wibawa justru dibangun dari persahabatan antara siswa dengan guru.
·          Kaya metode dan media. Guru hebat teramat paham kalau siswa itu mudah jenuh, dinamis, dan kreatif. Menurutnya, mengajar harus menyenangkan, dinamis, dan kreatif. Jalan yang harus ditempuh adalah menerapkan pembelajaran dengan multimetode dan multimedia yang sesuai dengan keinginan siswa.

2.      Jika di wajibkan memilih apakah anda akan berupaya untuk menjadi “guru yang baik” ataukah ingin menjadi “guru yang hebat”? mengapa demikian? Tulislah minimal tiga alasan yang mendasari pilihan anda itu.
Jawab:
Saya lebih memilih menjadi guru yang hebat karena guru yang hebat adalah guru yang mampu menginsfirasi dan memotivasi muridnya, sehingga mampu berbuat sesuatu yang baik dengan kemampuannya sendiri "menurut Muhamad Nuh Mendikbud RI. Dan dari sana saya terinsfirasi ingin menjadi guru yang hebat.
 Dan alasan saya yang pertama, jika saya memberiksn kebaikan, maka saya dapat menerima kebaikan dari mereka. Sehingga mereka menjadikan saya sebagai insfirasi mereka. Dan alasan yang kedua, saya dapat menciptakan situasi pada anak malas tetapi mau menunjukkan jarinya sehingga mengalami kesuksesan. Sehingga terjadi komunikasi yang harmonis antara guru dan siswanya. Dan alasan ketiga, saya dapat di hargai dalam setiap saya mengajar di dalam kelas dan harus selalu bersikap optimis untuk selalu yakin bahwa saya mampu untuk membawa siswa atau siswi ke arah perbaikan diri.

3.      Bagaimanakah profil ideal guru bahasa indonesia di era globalisasi ini? Jelaskanlah menurut sudut pandang anda masing-masing!
Jawab:
Profil guru bahasa indonesia di globalisasi, dengan kenyataan zaman yang semakin lama semakin berubah menjadi modern maka di harapkan profil guru bahasa indonesia di zaman ini harus mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Sebagai guru bahasa indonesia harus bisa menjadi perpustakaan hidup bagi anak didiknya. Selain itu, seorang guru harus terampil dalam menyampaikan materi agar anak didiknya merasa termotivasi dalam belajar.

4.       Adakah manfaat yang anda peroleh setelah membaca wacana itu? jika ada, tulislah semua manfaat yang dapat anda petik darinya.
Jawab:
Manfaat yang saya dapat dari materi tersebu,t saya dapat mengetahui peranan guru dan dosen yang sama-sama menjadi pendidik profesional. Sebagai pendidik profesional, seorang guru maupun dosen mampu mendidik peserta didiknya, serta memotivasi agar peserta didiknya menjadi manusia yang bermartabat dan bermanfaat bagi bangsa dan agama. Selain itu, sebagai guru dan dosen harus bertanggungjawab atas tugas yang diembannya, yaitu selain mendidik tetapi harus mampu mengikuti peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Senin, 07 Mei 2012


MANFAAT MODEL PERKULIAHAN
Manfaat dari kegiatan model perkuliahan yang di berikan oleh ibu Isna Sulastri dalam mata kuliah pembelajaran berbicara ini membantu saya untuk lebih mempersiapkan materi yang akan saya sampaikan. Lebih memahami materi, sehingga pertanyaan yang di lontarkan oleh ibu Isna dapat saya jawab. Dari kegiatan perkuliahan ini membantu saya untuk lebih percaya diri mempersentasikan materi di depan kelas. Dan menyuruh saya untuk selalu belajar, dan harus tetap semangat dan selalu yakin bahwa saya bisa dalam menyampaikan materi yang telah di pelajari sebelumnya. Sesuai dengan pemahaman yang telah saya dapat ini. Saya dapat renungi bahwa belajar memang tidak mudah, tetapi jika kita berniat untuk merubah diri dan selalu berusaha kita pasti bisa dalam hal apapun. Dengan adanya kegiatan ini saya dapat banyak berlatih bagaimana menyampaikan pendapat dengan konteks bahasa sendiri. Selain itu saya dapat bertukar fikiran dengan dosen dan teman-teman yang telah mengikuti perkuliahan. Dan begitu banyaknya manfaat yang dapat saya dapatkan dalam perkuliahan ini dan merupakan suatu pembelajaran yang sangat bermanfaat dalam proses belajar saya di kampus maupun dirumah.
Keunggulan dari kegiatan model perkuliahan ini dapat memacu mahasiswa/i untuk selalu belajar. Selain itu, baik mahasiswa maupun mahasiswi mampu menyampaikan apa yang telah dipahami dengan pendapat mereka sendiri dengan proses belajar yang sebelumnya dilakukan dirumah. Dan adapun keunggulan model perkuliahan ini sangatlah bermanfaat bagi mahasiswa melatih dirinya berbicara di depan umum dan menjadikan mereka menjadi orang-orang yang bisa mengungkapkan pendapatnya tanpa membaca buku melainkan dengan pemahaman mereka setelah belajar memahami materinya terlebih dahulu di rumah.
Kekurangan dari model perkuliahan ini mungkin bagi mahasiswa yang tidak memperhatikan presentasi yang dilakukan temannya akan tidak dapat mengerti apa yang telah disampaikan, karena materi tersebut di terangkan oleh temannya melainkan bukan dosen. Jadi tidak akan mendapat mengulang kembali apa yang telah di sampaikan oleh temannya yang telah mempresentasikan materi tersebut. kemungkinan besar apabila tidak minat memperhatikan di kalangan mahasiswa, maka berbagai reaksi saling bermunculan. Para mahasiswa seolaholah langsung menghadapi masalahnya sendiri atas tidak memperhatikan apa yang telah disampaikan temannya.        
Dan untuk mengatasi masalah tersebut baiknya bagi mahasiswa agar memperhatikan dan menyimak apa yang telah disampaikan oleh temennya di depan kelas. Agar tidak merugikan diri sendiri dan dapat menghargai orang yang telah berbicara di depan kelas. Karena apabila mahasiswa yang tidak menyimak atau memperhatikan materi yang telah disampaikan akan tidak mendapatkan pembelajarn yang terbaik yang telah di sampaikan. Dan seharusnya mahasiswa dapat menangkap isi pembicaraan atau bahan simakan. Misalnya dengan membuat rangkuman dan menyajikan atau menyampaikannya sesudah selesai menyimak. Namun perlu diingat, selama menyimak jangan hanya asyik membuat catatan-catatan tetapi pemahaman pula. Apabila mencatat semua yang diucapkan atau semua yang disampaikan pembicara, sehingga pesan pembicara tidak lagi dapat dipahami. Dan memberi penilaian terhadap materi yang disampaikan. Pada saat ini penyimak mulai menimbang, memeriksa, membandingkan apakah pokok-pokok pikiran yang dikemukakan si pembicara, agar bermanfaat untuk kita semua.