PEMEROLEHAN
BAHASA DAN PROSES PEMEROLEHAN BAHASA
Ada beberapa hipotesis tentang asal mula bahasa dihubungkan
dengan pemerolehan bahasa pada anak. E. Cassier (dalam Abdul Chaer, 1994: 65)
berpendapat bahwa pada dasarnya bahasa merupakan pengungkapan gagasan serta
ekspresi perasaan atau emosinya. Ia berpendapat bahwa jeritan-jeritan yang
keluar dari seorang anak (bayi) merupakan ungkapan emosionalnya.
Istilah pemerolehan merupakan padanan kata acquisition. Istilah
ini dipakai dalam proses penguasaan bahasa pertama sebagai salah satu
perkembangan yang terjadi pada seorang manusia sejak lahir. Secara alamiah anak
akan mengenal bahasa sebagai cara berkomunikasi dengan orang di sekitarnya.
Bahasa pertama yang dikenal dan selanjutnya dikuasai oleh seorang anak disebut
bahasa ibu (Mother talk).
Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah
suatu proses yang diperlukan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian
hipotesis yang semakin bertambah rumit ataupun teori-teori yang masih terpendam
atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi dengan ucapan-ucapan orang tuanya
sampai ia memilih berdasarkan suatu ukuran atau takaran penilaian, tata bahasa
yang baik serta paling sederhana dari bahasa (Abdul Chaer, 1994: 66).
Ellis menyebutkan adanya dua tipe pembelajaran
bahasa, yaitu tipe naturalistic dan tipe formal di dalam kelas. Tipe
naturalistic yaitu bersifat alamiah, tanpa guru dan tanpa kesengajaan,
pembelajaran berlangsung di dalam lingkungan kehidupan bermasyarakat, belajar
bahasa dengan tipe naturalistic ini sama prosesnya dengan pemerolehan
bahasa pertama yang berlangsung secara alamiah di dalam lingkungan keluarga
atau lingkungan tempat tinggal. Adapun formal berlangsung di dalam kelas
dengan guru, materi, dan alat-alat bantu belajar yang telah dipersiapkan,
seharusnya hasil yang diperoleh secara formal dalam kelas ini jauh lebih baik
daripada hasil secara naturalistik, namun kenyataannya hingga sekarang hasil
pembelajaran bahasa sangat tidak menggembirakan.
Chaer dan Agustina juga mengatakan bahwa
pembelajaran bahasa secara natural jauh lebih efektif dari pada pembelajaran
formal, hal ini dapat dipahami berdaasarkan contoh yang disebutkannya, ada dua
orang mahasiswa dari Tapanuli, Togar dan Sahat yang mengikuti kuliah di Malang,
pada awal kedatangannya sedikit pun dia tidak mengetahui bahasa Jawa. Namun,
karena orang-orang di sekitarnya seperti teman kuliah, teman sepemondokan,
pedagang di pasar, dan sebagainya berbahasa jawa, keduanya berusaha belajar
bahasa Jawa dan mempraktekkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar