Jumat, 05 Oktober 2012


PEMEROLEHAN BAHASA DAN PROSES PEMEROLEHAN BAHASA

Ada beberapa hipotesis tentang asal mula bahasa dihubungkan dengan pemerolehan bahasa pada anak. E. Cassier (dalam Abdul Chaer, 1994: 65) berpendapat bahwa pada dasarnya bahasa merupakan pengungkapan gagasan serta ekspresi perasaan atau emosinya. Ia berpendapat bahwa jeritan-jeritan yang keluar dari seorang anak (bayi) merupakan ungkapan emosionalnya.
Istilah pemerolehan merupakan padanan kata acquisition. Istilah ini dipakai dalam proses penguasaan bahasa pertama sebagai salah satu perkembangan yang terjadi pada seorang manusia sejak lahir. Secara alamiah anak akan mengenal bahasa sebagai cara berkomunikasi dengan orang di sekitarnya. Bahasa pertama yang dikenal dan selanjutnya dikuasai oleh seorang anak disebut bahasa ibu (Mother talk).
Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah suatu proses yang diperlukan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis yang semakin bertambah rumit ataupun teori-teori yang masih terpendam atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi dengan ucapan-ucapan orang tuanya sampai ia memilih berdasarkan suatu ukuran atau takaran penilaian, tata bahasa yang baik serta paling sederhana dari bahasa (Abdul Chaer, 1994: 66).
Ellis menyebutkan adanya dua tipe pembelajaran bahasa, yaitu tipe naturalistic dan tipe formal di dalam kelas. Tipe naturalistic yaitu bersifat alamiah, tanpa guru dan tanpa kesengajaan, pembelajaran berlangsung di dalam lingkungan kehidupan bermasyarakat, belajar bahasa dengan tipe naturalistic ini sama prosesnya dengan pemerolehan bahasa pertama yang berlangsung secara alamiah di dalam lingkungan keluarga atau lingkungan tempat tinggal. Adapun formal berlangsung di dalam kelas dengan guru, materi, dan alat-alat bantu belajar yang telah dipersiapkan, seharusnya hasil yang diperoleh secara formal dalam kelas ini jauh lebih baik daripada hasil secara naturalistik, namun kenyataannya hingga sekarang hasil pembelajaran bahasa sangat tidak menggembirakan.
Chaer dan Agustina juga mengatakan bahwa pembelajaran bahasa secara natural jauh lebih efektif dari pada pembelajaran formal, hal ini dapat dipahami berdaasarkan contoh yang disebutkannya, ada dua orang mahasiswa dari Tapanuli, Togar dan Sahat yang mengikuti kuliah di Malang, pada awal kedatangannya sedikit pun dia tidak mengetahui bahasa Jawa. Namun, karena orang-orang di sekitarnya seperti teman kuliah, teman sepemondokan, pedagang di pasar, dan sebagainya berbahasa jawa, keduanya berusaha belajar bahasa Jawa dan mempraktekkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar